KABARSAIRERI.COM – Pemerhati sosial sekaligus dosen, Yohanis Wanane, mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen melalui Dinas Kesehatan untuk segera menyiapkan program strategis dan terarah dalam mengatasi persoalan HIV/AIDS di Kepulauan Yapen pada tahun 2026.
Desakan tersebut disampaikan menyusul tingginya angka kasus HIV/AIDS di Kepulauan Yapen. Berdasarkan data kumulatif hingga September 2025, tercatat 2.962 kasus HIV/AIDS, yang menempatkan Kepulauan Yapen pada urutan ke-4 tertinggi di Provinsi Papua. Bahkan, hingga Maret 2025, jumlah kematian akibat HIV/AIDS dilaporkan mencapai 459 orang, dengan kasus terbanyak berasal dari Distrik Anotaurei dan Distrik Yapen Selatan.
“Angka ini sangat memprihatinkan dan tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan biasa. Pemerintah daerah harus hadir secara serius dan terencana,” tegas Yohanis Wanane.
Sebagai dosen dan pemerhati sosial LSM LIRA Papua, Yohanis menyoroti dampak besar HIV/AIDS terhadap orang asli Papua (OAP), terutama perempuan, yang menurutnya menjadi kelompok paling rentan. Ia menyebut banyak perempuan Papua yang saat ini telah terpapar virus HIV/AIDS dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.
“Kita sedang berbicara tentang penyelamatan orang asli Papua, terutama perempuan yang telah terkapar akibat virus HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan sudah sangat jelas, tinggal bagaimana keberpihakan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Yohanis Wanane juga mendorong Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Yapen untuk lebih fokus pada edukasi, pencegahan, serta penguatan layanan pengobatan Antiretroviral (ARV) agar penanganan HIV/AIDS dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Selain itu, ia mengusulkan agar Pemda mempertimbangkan pembentukan klinik terpadu khusus pasien TBC dan HIV/AIDS pada tahun 2026. Klinik tersebut dinilai penting untuk memberikan pelayanan yang lebih terfokus, terintegrasi, dan manusiawi bagi para pasien.
“Jika perlu, Pemda harus berani membuat klinik terpadu khusus TBC dan HIV/AIDS. Ini adalah langkah strategis untuk menekan angka penularan sekaligus menyelamatkan masa depan generasi Papua di Kepulauan Yapen,” tegasnya.
Ia berharap, melalui sinergi antara pemerintah daerah, KPA Yapen, tenaga kesehatan, serta elemen masyarakat, penanganan HIV/AIDS di Kepulauan Yapen dapat dilakukan secara lebih efektif dan berdampak nyata bagi masyarakat. (*)















