KABARSAIRERI.COM – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026, Charles Gomar, S.H., M.H., menyampaikan ucapan selamat sekaligus seruan tegas kepada seluruh wartawan dan jurnalis di Kabupaten Kepulauan Yapen untuk menjadikan pers sebagai kekuatan advokasi rakyat, terutama dalam mengawal persoalan pendidikan yang dinilai masih timpang dan memprihatinkan.
Menurut Charles, HPN harus menjadi momentum refleksi dan keberpihakan. Pers tidak boleh hanya hadir dalam ruang-ruang seremoni, tetapi harus berdiri di garis depan memperjuangkan hak dasar anak-anak Yapen yang selama ini tidak memiliki ruang bersuara.
“Selamat Hari Pers Nasional untuk teman-teman wartawan dan jurnalis Kepulauan Yapen. HPN bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk bertanya: apakah kita masih berpihak kepada rakyat, terutama anak-anak yang hak pendidikannya dirampas oleh sistem yang tidak berjalan baik,” tegas Charles saat dihubungi Kabar Saireri. 9/2/2026 kemarin.
Charles menekankan bahwa kondisi pendidikan di Kepulauan Yapen saat ini harus dilihat sebagai situasi darurat. Ia menyampaikan beberapa indikator yang menjadi alarm keras bagi semua pihak, antara lain terindikasi 17 dari setiap 100 anak di Yapen putus sekolah setelah SD, adanya sekolah yang hanya memiliki 8 guru, serta masih terdapat kampung-kampung yang belum memiliki sekolah.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah wajah kegagalan kita sebagai daerah. Ribuan anak kehilangan masa depan bukan karena tidak mampu, tetapi karena sistem yang belum benar,” ujar Gomar yang adalah politisi partai NasDem, Papua Selatan asal Serui.
Dalam pesannya, Charles menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis sebagai “mata rakyat” yang mampu membuka kenyataan, membongkar ketidakadilan, dan mendorong perubahan kebijakan. Ia mengajak insan pers untuk melakukan liputan investigatif, mengangkat kisah anak-anak putus sekolah, menyoroti sekolah-sekolah rusak, serta mengungkap wilayah-wilayah yang kekurangan guru dan fasilitas.
“Pers adalah mata rakyat. Pena kalian lebih tajam dari pedang. Berita kalian bisa mengubah kebijakan. Tolong gunakan kekuatan itu untuk anak-anak di pojok-pojok Yapen yang sekolahnya rusak, gurunya tidak ada, dan mimpinya pupus,” kata Charles.
Ia juga mengingatkan bahwa anak-anak di kampung-kampung terpencil tidak memiliki akses untuk menyampaikan keluhan. Mereka tidak dapat memprotes di media sosial, tidak bisa datang ke DPRK, dan tidak memiliki kekuatan politik.
“Mereka tidak bisa bicara di media sosial. Mereka tidak bisa datang ke DPRK. Mereka tidak bisa protes. Yang mereka punya hanya harapan bahwa ada yang peduli. Dan pers adalah suara yang paling mungkin membela mereka,” tegasnya.
Charles menyinggung ironi bahwa Kepulauan Yapen memiliki potensi sumber daya alam dan dukungan Dana Otonomi Khusus, namun masih menghadapi persoalan mendasar di sektor pendidikan. Ia mengutip pernyataan Lee Kuan Yew bahwa kualitas sumber daya manusia suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan.
“Singapura tanpa SDA bisa maju karena investasi pada pendidikan. Yapen punya laut, hutan, dan Dana Otsus. Tetapi jika anak-anak kita tidak terdidik, semua akan sia-sia,” ujarnya.
Sebagai penutup, Charles juga mengutip Amsal 31:8-9 sebagai pengingat moral bagi pers untuk berdiri membela yang lemah.
“Amsal 31:8-9 berkata: ‘Bukalah mulutmu untuk si bisu, untuk membela semua orang yang terlantar.’ Anak-anak yang putus sekolah adalah ‘si bisu’ yang butuh suara kita bersama,” pungkasnya.
Anggota DPR Provinsi Papua Selatan yang aktif memberikan saran, kritik dan sumbangsi kepada Yapen mengakhiri pesannya dengan ucapan terima kasih kepada seluruh insan pers di Kepulauan Yapen atas dedikasi dan pengabdiannya, serta ajakan untuk terus mengawal pendidikan agar tidak ada lagi anak Yapen yang kehilangan masa depan karena sistem yang belum benar. (*)















