KABARSAIRERI.COM – Anggota DPR RI Tonny Tesar, S.Sos menghadiri Ibadah Natal 1 Abad Pohon Terang yang digelar di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, pada Rabu, 25 Desember 2025. Ibadah Natal tersebut berlangsung khidmat dan penuh sukacita, dihadiri jemaat serta masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.
DAlam ibadah Natal ASN/TNI-POLRI dan Masyarakat ini disatukan dalam ibadah Perayaan Natal 1 Abad Pohon Terang menjadi momentum bersejarah bagi umat Kristen di Serui, sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama satu abad perjalanan iman. Suasana ibadah dipenuhi puji-pujian, doa, serta pesan-pesan rohani yang menguatkan persaudaraan dan kebersamaan umat.
Dalam ibadah ini diceritakan oleh Pdt. Hanz Wanma tentang sejarah yang mencatat Serui, 25 Desember 1925 terjadi sebuah tonggak sejarah besar tercipta di Tanah Papua ketika Perayaan Natal terbesar pertama bagi orang Papua digelar di Serui Pantai. Perayaan ini menjadi momen monumental yang tidak hanya menyatukan ribuan orang dari berbagai penjuru Kepulauan Yapen, tetapi juga menandai awal dari sebuah peradaban baru yang membawa terang Injil ke tengah masyarakat Papua.
Bermula dari dedikasi dua misionaris Belanda, Dirk C.A. Bout dan Albert de Neef, yang melayani masyarakat Yapen sejak 1924. Berdasarkan arsip Majalah Zending Peningske Leiden, misionaris Bout bahkan telah menyebarkan teks lagu “Malam Kudus” ke seluruh penjuru Yapen pada Agustus 1925.
Meskipun Injil belum sepenuhnya diterima di beberapa kampung, termasuk Waropen, semangat Natal tetap menyala. Beberapa warga Waropen yang hadir dalam perayaan itu kembali ke kampung mereka dengan penuh cerita dan kekaguman. Mereka menyampaikan tentang pohon terang dan dekorasi indah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Hal ini memicu keinginan masyarakat Waropen untuk memiliki guru atau pandita agar mereka juga bisa merayakan Natal seperti itu.
Diceritakan Pdt. Hanz Wanma bahwa antusiasme masyarakat begitu besar. Sejak tanggal 20 hingga 24 Desember 1925, warga jemaat dan penduduk dari berbagai penjuru Yapen mulai berdatangan ke Serui. Mereka datang dengan perahu-perahu, membawa makanan, ikan, dan hasil buruan. Bahkan ada yang rela berjalan kaki demi ikut serta dalam perayaan ini. Sepuluh kampung di Serui bersatu menyiapkan tempat untuk menampung para tamu yang datang dari pelosok.
Pemandangan di Serui Pantai saat itu begitu menakjubkan. Perahu-perahu dari Ansus, Papuma, Kanaki, Woi, dan Woinap berlabuh, dihiasi obor yang menyala, menciptakan suasana malam yang indah dan penuh haru.
Jumlah jemaat yang terdaftar dalam perayaan ini pun luar biasa:
- Serui Pantai: 754 orang
- Serui Darat: lebih dari 700 orang
- Maryadey: 217 orang
- Ariepi dan sekitarnya: lebih dari 600 orang
- Kanaki (kampung Biak): 300 orang
Selain itu, masih banyak kampung lain yang turut hadir namun tidak terdaftar secara resmi. Diperkirakan sekitar 4.000 orang hadir dalam perayaan ini, meskipun sebagian besar dari mereka masih disebut sebagai “kafir” dan belum dibaptis. Pembaptisan massal baru akan dilaksanakan di Menawi pada 10–13 Mei 1931 oleh De Neef dan Bout, dengan jumlah 987 orang—sebuah rekor pada masanya. Rekor ini kemudian dipecahkan oleh Waropen pada tahun 1941, ketika Pdt. D.A. Ten Haaft membaptis 1.000 orang sekaligus.
Usai ibadah 1 Abad, Tonny Tesar turut diberikan kehormatan untuk menyerahkan hadiah kepada para juara lomba pondok Natal yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen. Penyerahan hadiah berlangsung meriah dan disambut antusias oleh para peserta lomba dan jemaat.
Dalam sambutannya, Tonny Tesar menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh jemaat yang telah menjaga nilai-nilai kebersamaan, toleransi, serta semangat persaudaraan melalui perayaan Natal ini. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kedamaian, khususnya di Tanah Papua.
“Perayaan Natal satu abad Pohon Terang ini bukan hanya perayaan iman, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan dan menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat,” ujar Tonny Tesar.
Perayaan Natal 1 Abad Pohon Terang di Serui ditutup dengan suasana penuh sukacita, diiringi doa dan harapan agar nilai kasih Natal terus hidup dan membawa damai bagi seluruh masyarakat Kepulauan Yapen. (*)















