KABARSAIRERI.COM – Ditengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, namun juga keterbatasan akses dan pemerataan teknologi di Tanah Papua. Di kabupaten Kepulauan Yapen ada siswa SMP Negeri Anotaurei, kelas VIII yang kesehariannya tak hanya diisi dengan buku pelajaran, namun ia sudah bisa membuat website, menata AI dan juga mengedit berita.
Namanya Hendrik Imbiri. Di usia yang masih belia (13 tahun), Hendrik sudah akrab dengan dunia yang bagi sebagian orang dewasa pun terasa rumit, seperti website, menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan edit berita profesional.
Usai pulang sekolah, Hendrik kerap menghabiskan waktunya di depan laptop rongsokan milik Bapaknya. Baris demi baris kode ia susun dengan sabar untuk mengarahkan AI, dari sana lahir website sederhana, eksperimen teknologi AI, hingga draf berita yang ditulis dengan struktur rapi, lengkap dengan judul, lead, dan isi sebagaimana karya wartawan media online.
Ketertarikan Hendrik pada dunia digital dan jurnalistik tumbuh dari lingkungan keluarga. Ia mengikuti jejak sang Bapak, Mark Imbiri, yang dikenal sebagai mantan aktivis keras Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), jurnalis, sekaligus desainer grafis.
Dari Bapaknya, Hendrik belajar bahwa teknologi dan media bukan sekadar alat, tetapi sarana menyampaikan kebenaran dan membangun masyarakat Papua.
“Dia belajar sendiri. Punya kemauan yang kuat, saya hanya arahkan dan berikan alur, selebihnya ia eksplorasi sendiri lewat internet. Website basic ia sudah bisa, edit berita, arahkan AI sebagai pembantu juga sudah baiklah. Sudah bisa bantu saya” tutur Mark Imbiri. Serui, 22/1/2026.
Menurut orangtua, sejak kecil Hendrik sudah menunjukkan ketertarikan pada internet, suka minta HP untuk nonton dan sering melihat Bapanya membuat website, desain grafis dan juga buat berita. Ucap Marselina Wayeni yang adalah Mamanya Hendrik.
“Saya dukung niat anak Hendrik ! ini bagian dari kurikulum merdeka belajar, yang mana kita orang tua harus berperan mengajarkan anak saat berada di rumah. Saya juga terbantu karena beberapa tugas website, edit berita dan desain flyer dapat dikerjakan oleh anak Hendrik, saya bisa tidur atau main gaplek” tutur Mark Imbiri.
Menurut Mark, kualitas anak Hendrik butuh diasah terus-menerus. Apalagi soal tatakelola website butuh kebiasaan.
“Kalau sudah bisa, pasti terbiasa untuk kerjakan. Intinya jangan cepat puas, tetapi terus update informasi dari waktu ke waktu” pesan Mark, senior jurnalis Yapen yang kini bekerja sebagai ASN di Humas Pemda Kepulauan Yapen.
Dengan memanfaatkan akses internet, Hendrik belajar secara otodidak. Ia membaca berbagai referensi, menonton tutorial, dan mencoba langsung membuat proyek-proyek kecil. AI baginya bukan sekadar tren, melainkan alat bantu untuk mengolah ide, menyusun data, hingga memperkaya penulisan berita.
Di tengah tantangan keterbatasan fasilitas dan akses teknologi, kemampuan Hendrik menjadi potret harapan. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk belajar dan berkembang.
Semangat dan rasa ingin tahunya menjadi modal utama dalam menembus dunia digital yang terus bergerak cepat.
Bagi Hendrik, menulis atau edit berita bukan hanya soal teknik, tetapi tentang tanggung jawab. Ia bercita-cita menjadi dokter dan wartawan profesional, pengembang teknologi website yang mampu menyajikan informasi akurat, mendidik dan berpihak pada kepentingan masyarakat Papua.
“Saya ingin mengalahkan Bapa saya, kalau hari ini Bapa dari LSM terus menjadi ASN di Serui sudah cukup dikenal banyak masyarakat Papua, besok-besok saya akan kalahkan Bapa. Saya akan jadi wartawan, punya media sendiri dan kerjakan orang asli Papua dan bisa membuat banyak website. Atau tidak saya jadi dokter, supaya bisa bantu melayani banyak masyarakat Papua.” tutur Hendrik dengan senyum.
Lanjutnya, Hendrik berharap dirinya bisa diijinkan orang tuanya untuk bisa turun liputan, cari berita, wawancara narasumber dan juga bisa punya laptop sendiri.
“Saya ingin punya laptop sendiri, supaya bisa bantu Bapa. Saya harap, suatu saat Bapa bisa ijinkan saya untuk turun liputan, bisa wawancara narasumber. Sekarang saya hanya bantu Bapa edit berita, edit gambar dan pandu website serta AI. Semoga suatu saat saya bisa liputan seperti Bapa” harap Hendrik sembari malu-malu melihat Bapanya.
Kisah Hendrik Imbiri adalah cerita tentang generasi muda Papua yang diam-diam bertumbuh, belajar, dan bersiap mengambil peran. Dari saat kelas SMP di Serui, ia menatap masa depan dengan keyboard, kode, dan kata-kata sebagai senjatanya. (*)














