KABARSAIRERI.COM – Derasnya arus Kali Manaenam tak hanya menggerus bantaran sungai, tetapi juga merobek ketenangan warga Kampung Yapan dan Kampung Mantembu. Di tepian sungai itu, satu per satu kuburan leluhur ambruk, terbawa banjir, meninggalkan duka yang tak terhitung oleh angka.
Sejak tahun 2024 hingga 2025, warga mencatat 14 kuburan di pemakaman Mantembu rusak akibat pengikisan tanah dan banjir.
Dari jumlah itu, 7 jasad berupa tulang belulang berhasil dievakuasi dan dikuburkan kembali berkat gotong royong keluarga dan masyarakat. Namun 7 kuburan lainnya hilang, tersapu arus sungai, tanpa sempat diselamatkan.

Bagi warga, peristiwa ini bukan sekadar bencana alam, tetapi luka batin yang terus terbuka.
Kuburan bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang sakral yang menyimpan sejarah, identitas, dan ikatan emosional antar generasi.
“Setiap kali hujan deras, kami takut. Takut kuburan keluarga kami hilang lagi,” Gutiks Wayeni.
Tuntutan Bronjong dan Talud Permanen
Masyarakat Kampung Yapan dan Kampung Mantembu mendesak pemerintah segera lanjutkan membangun bronjong atau talud permanen di bantaran Kali Manaenam, khususnya di wilayah Kampung Mantembu.
Mereka menilai langkah tersebut sebagai solusi paling realistis untuk menghentikan laju pengikisan tanah.
Upaya normalisasi sungai yang selama ini dilakukan pemerintah dinilai kurang efektif.
Menurut warga, struktur tanah di lokasi tersebut merupakan tanah halus berpasir, sehingga material timbunan hasil normalisasi mudah tergerus kembali saat banjir datang.
“Baru ditimbun, hujan besar datang, semua hilang lagi. Kami butuh pengaman sungai yang kuat, bukan sementara,” keluh warga lainnya.
Laporan ke Komnas HAM
Merasa keluhan mereka belum mendapat respons serius, masyarakat akhirnya melaporkan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Manaenam ke Komnas HAM.
Laporan itu telah ditindaklanjuti dan rekomendasi dari Komnas HAM telah diterbitkan, sebagai bentuk pengakuan bahwa persoalan ini menyentuh aspek hak asasi manusia terutama hak atas rasa aman, lingkungan hidup yang layak, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan budaya.

Memindahkan Tulang Belulang, Langkah Terakhir yang Menyakitkan
Sambil menunggu kepastian dari pemerintah, masyarakat mengambil langkah darurat.
Kuburan-kuburan yang berada di tepi terjal kali, baik yang berpotensi rusak maupun yang sudah terdampak, mulai dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Langkah ini bukan keputusan mudah. Proses pemindahan tulang belulang dilakukan dengan ritual adat dan doa, sebagai bentuk penghormatan.
“Ini bukan keinginan kami. Tapi kalau tidak dipindahkan, kami akan kehilangan mereka untuk selamanya,” ujar Martinus Wandamani.
Menanti Kepedulian Nyata
Bagi warga Yapan dan Mantembu, persoalan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan soal kemanusiaan dan martabat.
Mereka berharap pemerintah hadir bukan hanya dengan janji, tetapi dengan tindakan nyata membangun perlindungan permanen agar banjir tak lagi merenggut yang telah tiada, dan agar yang hidup bisa kembali merasa aman.
Di bantaran Kali Manaenam, waktu terus berjalan, air terus mengalir, dan warga terus menunggu: kapan negara benar-benar datang melindungi mereka bahkan hingga ke peristirahatan terakhir leluhur mereka. (*)















